Aplikasi mikro organisme lokal Berhemat Pakan Produksi Melesat

Penggunaan mikroorganisme lokal (MOL) dan pemberian pakan buatan sendiri mendongkrak tingkat kelulusan hidup lele, meningkatkan produksi, sekaligus menekan biaya. Ujung-ujungnya peternak mengantongi lebih banyak rupiah.

Yhman Edi Iskandar, peternak lele di Desa Gajahmati, Kecamatan Babatsupat, Kabupaten Musibanyuasin, Sumatera Selatan, mengambil 10 lembar daun pepaya tua, menghaluskan, dan mencampurnya dengan 2,5 liter air cucian beras, 2,5 liter air kelapa, dan 0,25 kg gula merah. Semua bahan dimasukkan ke dalam ember, lalu tutup rapat.

Selang 15 hari kemudian ia menyaring cairan hasil fermentasi bervolume total kira-kira 5 liter (5.000 ml) itu dan mengambil sebanyak 200 ml cairan. Yaman lalu menambahkan cairan itu ke air setinggi 50 cm di kolam seluas 4 m x 2 m. Setelah itu barulah ia menebar bibit lele pada awal 2011.

Murah dan mudah

Yaman mengaplikasikan MOL sebagai pengganti probiotik buatan pabrik. Probiotik yang kaya mikrob mampu meningkatkan tingkat kelulusan hidup lele, mempercepat panen, dan meningkatkan produktivitas. Itu karena penggunaan probiotik memperbaiki kualitas air kolam.

Ir Bambang Gunadi MSc, peneliti di Balai Penelitian dan Pemuliaan Ikan, Sukamandi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, menuturkan peternak lele kerap menyusutkan 10-20% air kolam lalu mengganti dengan air baru setiap dua pekan. Tujuannya untuk menghilangkan amoniak akibat endapan sisa makanan dan kotoran. Amoniak menyebabkan kualitas air buruk sehingga tingkat kematian tinggi.

Mikrob dalam probiotik mengurangi jumlah amoniak terlarut dalam air. ‘Tidak terdapat perbedaan antara prinsip kerja MOL dan probiotik.

Bedanya MOL terbuat dari bahan-bahan alami yang mudah diperoleh dengan harga yang lebih murah,” tutur Ir Y Wahyudln, konsultan pemberdayaan masyarakat sebuah perusahaan tambang berskala nasional.

Yaman mengaplikasikan MOL sebelum tebar bibit dan diulang setiap pekan sebanyak 100 ml. la juga memasukkan sekarung berisi 10-15 kg kotoran kambing dan diamkan selama 10 hari pertama budidaya.

Kotoran kambing menjadi media , tumbuh mikrob sehingga mikrob berkembang lebih cepat. Menurut Dr Ir Mublar Purwasasmita dari Laboratorium Pengembangan Proses, Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknonogi Bandung, pemberian kotoran hewan dalam karung lebih menguntungkan dibanding ditaburkan karena kualitas air menjadi lebih terjaga.

Nun di Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Wagiran, juga mengaplikasikan MOL Bedanya ia mencampur MOL dalam pakan.

Peraih juara ke-3 pada lomba Unit Pembenihan Rakyat yang diselenggarakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2005 itu membuat MOL dari 1 liter tetes tebu, 1 kaleng susu kental manis, dan 2 kg gula pasir yang dilarutkan dalam 30 liter air bersama 0,5 liter bakteri Lactobacillus.

Ramuan itu disimpan dalam jeriken berwarna gelap berkapasitas 35 liter yang ditutup rapat

Dua hari berselang, Wagiran mencampur 10 cc cairan hasil fermentasi berwarna pekat itu dalam 1 kg pelet Frekuensi pemberian pakan ber-MOL setiap pekan. “Ramuan itu membuat nafsu makan lele meningkat,” tutur Wagiran.

Selain itu, ketua kelompok pembudidaya ikan Trunojoyo itu juga menambahkan 10 cc MOL per m3 air kolam setiap pekan. Bahan yang digunakan tetap sama, bedanya ia mengganti bakteri Lactobacillus dengan bakteri Nitrobacter.

Racik Pakan sendiri

Yaman mengombinasikan aplikasi MOL dengan pemberian pakan campuran antara pakan pabrik dan buatan sendiri seperti yang dicontohkan Wahyudin.

Mula-mula pada hari pertama pascatebar hingga hari ke-14 Yaman memberi 3-4 sendok makan pakan pabrik atau total 2 kg Pada hari ke-15 hingga ke-24 pemberian pakan pabrik ditingkatkan 1 kg per hari.

Mulai hari ke-25 kombinasi pakan pabrik dengan pakan buatan diberikan hingga panen. Sehari pakan pabrik, hari berikut pakan buatan sendiri.

Yaman membuat pakan sendiri usituk menekan biaya pembelian 90 kg pakan pabrik yang mencapai Rp540.000 per satu periode budidaya. Dengan kombinasi pakan buatan sendiri biaya pembelian hanya Rp208.000.

Tambahan biaya membuat membuat pakan sendiri paling Rp50.000 untuk 40 kg pakan. Dalam budidaya lele pakan mengambil porsi 60% biaya.

Pakan terbuat dari 6 kg dedak, 6 kg kotoran sapi kering, 5 kg ikan rucah, dua butir daging buah kelapa, 1,5 kg sayuran, dan 0,5 kg tepung sagu.

“Pakan buatan harus mencukupi kebutuhan nutrisi ikan, tidak hanya protein, tetapi juga karbohidrat dan vitamin,” ujar Mubiar. Sagu berperan sebagai sumber karbohidrat, dedak sumber vitamin B dan E, sementara protein dari ikan rucah. Semua bahan dihaluskan lalu dicetak menggunakan mesin pelet dan dijemur hingga kering.

Berkat pemberian MOL dan kombinasi pakan, tingkat kelulusan hidup tinggi, 80-90%. Tanpa keduanya, 40-50%. Dari 800 bibit ukuran 4-6 cm, Yaman memanen 600 ekor 2,5 bulan kemudian.

Sebanyak 350 ekor masuk kelas konsumsi (sekilo terdiri dari 6-7 ekor), sisanya sebanyak 250 ekor dimasukkan kembali ke kolam karena bobot kurang. Yaman memanen lele sortir itu dua minggu kemudian.

“Mikroorganisme membantu meningkatkan penyerapan nutrisi pakan,” ujar Mubiar. Pantas jika presentase hidup lele meningkat.

Yaman menjual lele langsung kepada konsumen warung lele miliknya. Setiap hari sebanyak 50 ekor terjual dengan harga Rp7.000 per ekor lele matang. Pantas jika ayah dua putri itu mengantongi omzet Rp2.450.000 per pekan.

Kelebihan panen yang tidak terserap warung lele diambil pengepul Rp15.000 per kg. Kaurdesa itu bisa panen setiap bulan karena mengatur panen dari dua kolam 4 m x 2 m yang dimiliki.

Cara Meracik Micro Organisme lokal

  1. Siapkan semua bahan terdiri atas 2,5 liter air cucian beras, 2,5 liter air kelapa, 0,25 kg gula merah, dan 10 lembar daun pepaya tua
  2. Haluskan daun pepaya dan campur dengan bahan lain
  3. Masukkan ke dalam ember berwarna gelap lalu tutup selama 10-15 hari
  4. MOL berwarna cokelat kehitaman siap digunakan

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *