Menyusuri Malam di Kota Durian

Malam beranjak tua di kota Medan. Suasana di luar berangsur senyap. Dari balik kemudi Nissan X-Trail silver, Gustian Danil, pengusaha properti di Medan, mengangkat telepon genggam. “Bang, di mana tempat durian paling enak di Medan?” tanyanya. Dari seberang Alwi Susanto, sahabatnya, menjawab, “Biar tak kecewa, datang saja keJI. Sumatera. Di sana durian pilihan berkumpul.” Tujuh menit usai pembicaraan, kendaraan yang kami tumpangi sudah berada di lokasi itu. Empat lapak penjual durian menyambut perburuan kali ini.

Dengan penuh keyakinan Gustian menepikan mobil di depan sebuah lapak berspanduk “Boncel Durian”. Kios itu tepat berada di persimpangan antara Jl. Sumatera dengan Jl. Jambi. “Saya kira ini tempat paling mewakili. Pemiliknya masih muda dan penataan tempat kreatif,” kata master ekonomi dari Kennedy Western University, Amerika Serikat, itu.

Trubus bergegas turun dan menemui Young Ramli, sang pemilik. “Sudah habis Bang? Kok sedikit sekali duriannya?” tanya Trubus penuh kesangsian. Dua malam sebelumnya Trubus juga menyambangi pusat penjualan durian di Jl. Iskandar Muda dan Jl. Adam Malik. Di sana lapak-lapaknya dipenuhi durian.

Pilihan Tionghoa

Boncel—sapaan akrab Ramli— menjawab tenang. “Penjual di ruas jalan ini memang tak menjual banyak durian. Sedikit, tapi yang terpilih,” ujar kelahiran Padang 38 tahun silam itu. Kesangsian itu makin tak beralasan saat Boncel menyebutkan 5 syarat durian pilihan. Menurut Ramli, durian pilihan terbagi 2: pilihan etnis Tionghoa dan pilihan mania lokal.

Mania berdarah

Tionghoa memilih durian berdaging tebal, kering, kental, pahit, dan wangi. Bila telah menemukan durian lezat, mereka tak akan berpaling. Sebaliknya mania lokal cukup salah satu dari 5 syarat itu tergantung selera masing-masing.

Menurut Boncel, durian kegemaran keturunan Tionghoa berasal dari Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat. Letaknya sekitar 84 km dari Medan ke arah utara. Dari daerah itulah 2 durian yang sangat masyhur berasal: bintang 5 dan timah. Yang pertama disebut demikian karena kualitasnya disetarakan dengan hotel bintang 5 yang mewah.

Bintang 5 mempunyai keunikan. Daging buah tak putih atau kuning seperti daging durian lazimnya, tapi bersemburat merah. Biasanya, durian berwarna merah berdarah lai rasanya kurang enak. Sayang, saat Trubus ke sana, durian asal Bahorok tak ditemui karena musimnya telah berlalu.

Belawan dan sidikalang

Toh, kekecewaan sedikit terobati oleh kehadiran durian asal Ser Belawan, Siantar, dan Sidikalang. Durian dari kedua daerah itu tak bernama. Boncel memilihkan masing-masing 2 yang terbaik. Waktu mencicipi yang pertama Adil Barus, pemilik nurseri tanaman hias yang menemani Trubus langsung terpikat. “Ehm, manis, legit, dan agak pahit,” katanya. Daging buah tebal, harum, dan agak mengeluarkan gas. Sayang, kulit buah tipis sehingga mudah retak.

Durian belawan berukuran mini, kira-kira seukuran bola plastik anak-anak. Karena kecil, satu juring hanya berisi 1— 2 pongge.“Di sini disebut durian kucing titun (sebutan durian yang 1 juring berisi 1 pongge, red). Itu yang paling dicari mania kelas berat. Rasanya paling enak,” ujar pria yang telah berdagang durian sejak 1985 itu.

Setelah puas menyantap belawan, durian sidikalang dibelah. Warna daging buah yang putih kekuningan pun tersembul. Rasa durian sidikalang manis, legit, dan pahit meski kalah pahit dibanding belawan. Daging buah sedang karena biji agak besar. Keistimewaan sidikalang—dan hampir seluruh durian dari daerah itu—berkulit yang tebal. Jenis itu banyak dikirim ke luar kota karena tahan simpan 2—3 hari.

Pelanggan Jakarta

Sambil menikmati belawan dan sidikalang, ingatan Trubus melayang pada 2 malam sebelumnya. Bersama 4 sahabat— Ansori, Heri Syaefudin, Syahril Usman, dan Daniel M Sitompul—kami mangkal di lapak Ucok, pedagang durian di Jl. Iskandar Muda. Zainal Abidin—nama lengkap Ucok—dikenal sebagai pemasok durian terbesar di Sumatera Utara. Dalam sehari ia mendatangkan sekitar 2.400 butir dari berbagai daerah di Sumatera Utara.

Pasarnya terbentang mulai dari Medan hingga Jakarta. Ucok juga memasok durian untuk produk olahan. Sebut saja dodol, es krim, dan asam durian. Pelanggan dari Jakarta memesan durian dalam 2 bentuk, dikemas dalam plastik dan buah utuh.
Satu kemasan kecil—berisi 7—8 buah telah dikupas—dibandrol Rp65-ribu. Kemasan sedang,9—10 buah, Rp90-ribu, dan kemasan besar, 15 buah, Rpl30-ribu.

Pemandangan serupa juga ditemukan di lapak durian milik Nainggolan di Jl Adam Malik. Ditemani 4 mania durian Romi Wijaya Ginting, Ratna Siagian Esmeralda, Aifrida Mauliza, dan Fitriyanti Sitepu Trubus menikmati durian sidikalang. “Minta yang pahit dan tebal Bang,” kata Aifrida Mauliza memesan durian. Enam durian sidikalang pun habis disantap keempat mania itu.

Delapan bulan

Pantas Medan dikenal mania durian Jakarta sebagai sentra durian. Dalam setahun, 8 bulan di antaranya dipenuhi pedagang durian yang mangkal di jalanan. Tanah Datar—sebutan kota Medan di masa lalu—memang tempat berkumpulnya durian dari berbagai daerah.

Sebut saja Bahorok, Belawan, Sidikalang, Tanjung Langkat, Binjai, dan Siantar. Terkadang para pedagang mendapat kiriman dari sentra di Aceh dan Sumatera Barat. “Di Medan saat ini sedang tidak panen. Panen dari daerah-daerah itulah yang bergantian. Hanya Februari—Mei kami tak jualan,” ujar Nainggolan.

Cerita Boncel, Ucok, dan Nainggolan membuat Trubus penasaran. Keesokan harinya, bersama A Siong, dari Metro Hortikultura, kami menyusuri desa-desa di daerah Namorambe, Kabupaten Deli Tua. Namorambe dikenal sebagai sentra durian terbesar yang paling dekat dengan kota Medan. Sayang, hanya pohon-pohon durian tua tanpa buah yang menyambut kedatangan. Itulah kota Medan, meski tak musim durian, ruas-ruas jalanan di jantung kota tetap memamerkan si raja buah nan lezat.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *